"Mendampingi Sepenuh Hati" dalam Kurikulum Merdeka

Membangun mindset pendidik sebagai pamong/fasilitator yang empatik.

  1. Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara di Era Gen Z:

    • Membedah makna "Menuntun" vs "Menuntut".

    • Bagaimana menerapkan konsep Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani dalam konteks siswa SMK yang heterogen.

  2. Psikologi Siswa SMK Hari Ini:

    • Memahami karakteristik emosional siswa usia remaja di Surabaya.

    • Menggeser pendekatan "Hukuman" (Punishment) menjadi "Konsekuensi dan Restitusi" (Disiplin Positif).

  3. Guru yang Hadir Sepenuhnya (Mindfulness):

    • Pentingnya kehadiran guru tidak hanya fisik, tapi juga hati di dalam kelas.

    • Strategi membangun bonding (ikatan emosional) agar siswa merasa aman dan dihargai di sekolah.

Integrasi Budi Pekerti Luhur dalam Pembelajaran & Budaya Sekolah

Strategi teknis menanamkan karakter tanpa terkesan menceramahi.

  1. Budi Pekerti sebagai Soft Skill Industri:

    • Penjelasan dari Pak Haries (sebagai Pengawas) tentang keluhan industri terkait attitude lulusan.

    • Mendefinisikan "Budi Pekerti Luhur" dalam bahasa industri: Jujur, Tanggung Jawab, Resilience (Daya Juang), dan Santun.

  2. Integrasi dalam Mata Pelajaran (Intrakurikuler):

    • Cara menyisipkan pesan moral dalam materi teknis (Misal: Jujur dalam melaporkan data ukur, sabar dalam proses permesinan, etika digital untuk jurusan TI).

    • pembahasan Etika Digital/Netiquette sangat relevan untuk dibahas sebagai bagian dari budi pekerti modern.

  3. Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5):

    • Optimalisasi P5 bukan hanya sebagai pameran karya, tetapi sebagai laboratorium perilaku (kerjasama, gotong royong, akhlak mulia).

    • Kontekstualisasi karakter khas SMKS KAL-2 (Disiplin, Kehormatan) ke dalam kegiatan sehari-hari.

Peran Guru Sebagai "Role Model" & Sistem Evaluasi Karakter

Keteladanan guru dan cara mengukur keberhasilan pendidikan karakter.

  1. Keteladanan (The Power of Example):

    • Refleksi diri bagi guru: "Apakah saya sudah mencerminkan budi pekerti yang saya ajarkan?"

    • Pentingnya konsistensi antara ucapan dan tindakan guru di lingkungan sekolah.

  2. Asesmen Diagnostik Non-Kognitif:

    • Teknik sederhana bagi guru untuk mengetahui latar belakang masalah siswa (broken home, ekonomi, dll) agar bisa "mendampingi" dengan tepat sasaran.

  3. Supervisi Akademik Berbasis Coaching:

    • Bagaimana kepala sekolah dan tim manajemen melakukan supervisi yang memberdayakan guru, bukan mencari kesalahan, sejalan dengan semangat "sepenuh hati".

Rencana Tindak Lanjut (Action Plan) & Komitmen Bersama

Output konkret yang akan diterapkan setelah IHT.

  1. Penyusunan "Kontrak Belajar" Berbasis Karakter:

    • Membuat kesepakatan kelas yang mengedepankan nilai-nilai budi pekerti.

  2. Deklarasi Guru SMKS KAL-2:

    • Komitmen bersama untuk menjadi "Orang Tua Kedua" yang mendidik dengan hati, bukan hanya pengajar materi.

_adminwebside